Home Karimun Menelisik Kasus ABG Wik Wik di Gerobak, P2TP2A Karimun: Kasus Ini Jadi...

Menelisik Kasus ABG Wik Wik di Gerobak, P2TP2A Karimun: Kasus Ini Jadi Kewaspadaan Bersama

P2TP2A Karimun Bahas ABG Mesum
Menelisik Kasus ABG Wik Wik di Gerobak, P2TP2A Karimun: Kasus Ini Jadi Kewaspadaan Bersama
PANBIL MALL   Grand Mercure Batam

WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Kasus Cinta Terlarang dua remaja di Tanjungbalai Karimun masih menjadi perhatian masyarakat. Pelaku pria usia (19) sedang dilanda mabuk asmara berbuat mesum di sebuah gerobak yang terletak di Puakang, Sungai Lakam, Tanjungbalai Karimun.

Kasus ini tidak diterima oleh orang tua wanita, dimana anak gadisnya tersebut dibawa kabur oleh pelaku, dan akhirnya membuat laporan kepolisian di Polres Karimun.

Menanggapi hal tersebut, Ketua harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Karimun, Indrawan menegaskan bahwa, peristiwa ataupun kejadian tersebut patut menjadi kewaspadaan bagi kita bersama.

“Kewaspadaan perlu ditingkatan terutama bagi orang tua yang menjadi benteng utama untuk melindungi anak agar tidak menjadi korban ataupum pelaku kekerasan seksual,” terang Indrawan, Selasa (1/6/2021).

Karena menurutnya, ditinjau dari peristiwa kejadian tindakan kekerasan seksual tersebut, dapat terjadi dimana dan kapan saja.

“Baik itu di ranah publik maupun di ranah pribadi,” paparnya.

Salah satu anggota Tim Bison Satreskrim Polres Karimun menunjukkan gerobak berwarna biru yang viral, dilakukan oleh kedua remaja melakukan tindakan mesum. (Foto : Istimewa)

Indrawan menambahkan, berdasarkan data rata-rata pelaku adalah orang yang di kenal korban, baik itu melalui media sosial (Facebook), maupun kopi darat (jumpa langsung).

“Dominan, anak-anak paling rentan mendapati kekerasan seksual dari para pria dewasa,” tandasnya.

Tidak hanya itu saja, menurutnya saat bersama keluarga, hubungan orang tua dan anak perlu di kuatkan kembali, jangan sampai hubungan anak dan orang tua menjadi tegang (renggang).

“Bisa jadi, saat itu anak akan merasa tidak nyaman ketika bersama orang tuanya,” ungkap Indrawan.

Sehingga kata Indrawan, potensi untuk melarikan diri mencari dunia sendiri adalah salah satu faktor utama pemicu anak menjadi korban ataupun pelaku.

“Oleh sebab itu, diharapkan agar seluruh masyarakat perlu waspada terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya, terutama untuk kita para orang tua,” tandasnya.

Akan tetapi, ungkap Indrawan tidak juga untuk menjauhkan diri dan mengisolasi diri (mengurung diri) dari lingkungan sekitar. Pemerintah dan masyarakat harus ikut berpartisipasi untuk mengawasi tempat-tempat publik ataupun tempat yang berpotensi anak bisa menjadi korban kekerasan seksual maupun menjadikan pelaku.

“Kepedulian dan partisipasi dari masyarakat sekitar sangat dibutuhkan, guna meminimalisir terjadinya (potensi) tindakan kekerasan seksual,” ujarnya.

Kiriman : Aman

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026

WhasApp