Pemerintah Pusat Dukung Buah Kelapa Jadi Produk Ekspor Unggulan di Moro Karimun



WARTAKEPRI.co.id KARIMUN – Kelapa (Cocos nucifera) Produk pertanian di Karimun, khususnya di Pulau Moro salah satu dari Program Agro Gemilang, dimana mampu menggiatkan para pelaku agribisnis, menggali potensi produk ekspor, produksinya pun hingga kini terus dipacu.

Disela-kunjungannya dipelabuhan PT. Pulau Mas moro, kepala badan karantina pertanian Ali Jamil mengutarakan bahwa bahwa untuk nilai atau delta jual ekonomi yang ada pada eksportir harapannya agar dibantu para petani. Sebab yang menanam itu adalah para petani.

“Saat bertanya kepada camat untuk satu butir kelapa di moro sendiri berkisar tiga ribu rupiah, kalau satu tandan terdapat 20 butir hingga lamanya enam sampai delapan bulan, sehingga tidak akan efektif dan efisien,” tegas Ali.

Lanjutnya, para petani dapat menjual harga lebih dari itu, diantaranya olahan santan, arang hingga, batok tempurung hingga serabutnya. Sehingga dapat menambah penghasilan bagi para petani kelapa itu sendiri. Oleh karena itu lima terobosan akselerasi ekspor komoditas terobosan pertanian yang diinstruksikan oleh Presiden kepada seluruh kabinetnya hingga diturunkan kepada badan karantina.

Kelima instruksi presiden dibidang pertanian sendiri diantaranya yaitu yang Pertama, memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perijinan melalui OSS. OSS merupakan program perijinan terpadu, sehingga prosesnya bisa lebih cepat. Terobosan kedua, menurut Ali Jamil yakni mendorong generasi milenial untuk menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang.

Dalam program itu, pemerintah memberikan bimbingan teknis terkait SPS (Sanitary Phyto Sanitary), persiapan di lapangan dan bimbingan dalam giid handling practices (GHP).

“Kita konektivitas dengan daerah dan petani, Untuk GAP (Good Agricultuer Practices) ada di dinas dan GHP tugasnya pemerintah pusat, jelasnya.

Ketiga, ungkap Ali Jamil, pemerintah membuat kebijakan Inline Inspection. Dalam program ini Badan Karantina Pertanian melakukan kunjungan langsung ke eksportir, dari tingkat budidaya hingga handling. Dengan demikian mempermudah pelaku usaha dalam menangani produk yang akan diekspor.

Ke empat, program I-Mace. Dengan I-Mace, bisa diketahui data sentra komoditas pertanian dan berpotensi ekspor. Bahkan di I-Mace juga terdapat data produk pertanian yang diekspor dan negara tujuannya. Besar Harapan dengan I-Mace dapat digunakan sebagai bahan kebijakan gubernur dan bupati untuk membangun pertanian di daerahnya. Serta terobosan yang terakhir yaitu elektornik sertifikat (e-Cert).

Dengan e-Cert, menurut Ali Jamil, produk pertanian yang diekspor lebih terjamin. Jadi negara tujuan ekspor akan menerima sertifikasi secara online, kemudian langsung diperiksa dan diteliti.

Berbeda dengan sebelumnya, eksportir akan membawa berkas atau sertifikat masih dalam hardcopy bersamaan dengan produknya. Namun jika kemudian ada ‘masalah’ terhadap produk yang dikirim, justru akan merugikan eksportir. “e-Cert ini merupakan bentuk penjaminan sesungguhnya, karena produk sudah pasti bisa diterima di luar negeri,” ujarnya.

Saat ini sudah terdapat empat negara yang menerapkan e-Cert yakni, Belanda, Selandia Baru, Australia dan Vietnam. Namun ke depan, Ali Jamil berharap akan bisa bekerjasama dengan negara lain, terutama Uni Eropa.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, salah satu eksportir Alim berharap agar terdapat pelabuhan kontainer sehingga memudahkan akses dan pendistribusian hasil-hasil pertanian, terutama di wilayah moro dan sekitarnya.

“Kalau memungkinkan agar segera dibangun oleh pemkab atau pemerintah provinsi, karena banyak investor dari negeri tirai bambu untuk memindahkan produksinya, terutama untuk hasil santan,” pinta Alim.

Pada jenis komoditas kelapa dengan hasil olahan lainnya berupa air kelapa, bungkil dan juga dalam bentuk utuh menjadi andalan komoditi ekspor. Sepanjang tahun 2019 tercatat ekspor produk tumbuhan sebanyak 1,100 ton senilai Rp. 43,8 miliar tujuan Malaysia. Selain kelapa, komoditas lain adalah alpukat, kencur dan damar.

Sementara itu, untuk komoditas dari bidang karantina hewan, hingga Agustus 2019, sarang burung walet berhasil diekspor ke Singapura dan Taiwan sebanyak 399 kg dengan nilai ekspor mencapai Rp 39 miliar. Selain itu madu tujuan Malaysia juga turut menyumbangkan devisa negara. (*)

Tulisan : Aziz Maulana







DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA