Kirana Politeknik Beri Kesempatan Anak TKI Malaysia Belajar Teknisi Pesawat Lion di Hanggar Batam

Lion Air Batam Kerjasama dengan Garuda Maintenance



WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Program Presiden Jokowi untuk mewujudkan Pendidikan Vokasi dimana peserta didik tamat sekolah langsung bekerja, akan terwujud di Kota Batam. Dengan target puluhan ribu tenaga ahli dibidang pesawat dan dapat berkerja di wilayah udara Indonesia maupun Asia, maka diwujudkan kerjasama dibidang perawatan pesawat bersama antara Lion Air Group dan GMF AeroAsia Tbk dengan membangun industri maintenance repair and overhaul (MRO) ini di Batam.

Dan, kawasan Bandara Hang Nadim Batam lagi-lagi menjadi pilihannya, menyusul tahap satu dan dua yang sudah lebih dulu beroperasi. Joint venture kedua perusahaan ini diwujudkan dengan penandatangan kesepakatan dan peletakan batu pertama pembangunan MRO, Rabu, 14 Agustus 2019.

Simak Videonya di Chanel Youtube WartaKepri (Proses Editing)

Menteri Perekonomian Darmin Nasution mengapresiasi pembangunan industri perawatan dan perbaikan pesawat terbang oleh Lion Air Group dan GMF Aeroasia di Batam. Darmin menyambut baik karena industri hight technology ini berskala regional.

“Rencana ini sudah digagas sejak lima tahun lalu. Saya sampaikan, kalau hanya skala lokal (nasional) nggak usah. Harus punya nyali bangun yang berskala (mencakup negara-negara kawasan) regional,” ungkap Darmin, saat menyampaikan sambutannya, di acara Kesepakatan Kerjasama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Hangar Tahap III JV (BAT-GMF), di Hang Nadim Batam, Rabu (14/8/2019).

Darmin mengatakan, pembangunan MRO ini akan sangat membantu pengembangan industri aviasi di Tanah Air. Dengan hadirnya MRO di Batam, pesawat-pesawat komersil di Indonesia tak perlu lagi berbondong-bondong melakukan perbaikan dan perawatan pesawat di luar negeri.

“Pembangunan ini memberikan banyak keuntungan. Kita bisa menghemat (menekan) devisa ke luar negeri, memperkuat industri MRO dalam negeri, dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja baru,” ujarnya. “Untuk mendukung kesiapan SDM, pemerintah mendukung sepenuhnya pendidikan vokasi untuk melahirkan tenaga-tenaga ahli di bidang MRO ini,” ungkapnya.

Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, alasan Lion Group berinvestasi membangun hangar ini karena market MRO di Indonesia masih sangat potensial. Prospek ke depan, ada sekitar 700 pesawat domestik yang menjadi target market MRO.

“Alasan lain mengapa kami membangun MRO di Batam, selain bisa menghemat devisa, kami juga mengantisipasi prospek pertumbuhan armada pesawat di masa mendatang,” ujarnya. Kenapa Batam, sambung Edward, karena dari sisi jaringan domestik, Batam sangat dekat dengan Singapura.

Sehingga memudahkan dalam aktivitas pengiriman kargo dari Singapura. “Alasan lain yakni Batam memiliki run way (lintasan bandara) yang cukup panjang sekitar 4.000 meter,” ujarnya. Hangar ini berdiri di atas lahan sekitar 56 Ha dan mampu menampung delapan pesawat.

Keistimewaan lainnya, sambung Edward, penggunaaan lahan di Batam bisa disewa selama 50 tahun, yang tadinya hanya 30 tahun dan bisa diperpanjang lagi. “Ini juga yang menarik kami untuk investasi di Batam. Kami berterima kasih kepada BP Batam,” ujarnya.

Direktur GMF AeroAsia, Tazar Marta Kurniawan, menambahkan, penyatuan pembangunan MRO ini sangat efektif dalam menekan biaya, terutama devisa yang selama ini dikeluarkan GMF AeroAsia. Dengan hadirnya MRO ini, ke depan segala kegiatan perawatan dan perbaikan pesawat bisa dilakukan di dalam negeri.

“Ini investasi pertama kami membangun hangar di Batam. Ke depan kami akan membangun di Kualanamu, Medan, dan di Bintan, Provinsi Kepri,” ujarnya. Tazar menilai Kepri sangat strategis karena dekat dengan negara-negara di kawasan regional.

“Ini merupakan pengembangan industri MRO yang dilakukan GMF seiring perkembangan industri aviasi kita dalam negeri,” ujarnya.

Pada hari yang sama, Lion Air Group secara resmi mendapat lisensi untuk menjalankan Politeknik penerbangan sendiri yang diberi nama Kirana Angkasa Politenik. Dimana, calon siswa yang diambil adalah tenaga tamatan SMK Penerbangan baik yang ada di Kota Batam, dan Kepri. “Tapi, sebagai duta besar di Malaysia, saya memperhatikan banyak anak anak TKI yang telah sekolah di sana, tapi tidak berkesempatan bekerja di Malaysia secara profesional. Masak, jadi petani kebun sawit lagi, dan jika ada yang berprestasi lalu kita berita pendidikan disini, kelak mereka akan berkehidupan lebih baik dari orang tuannya,” harapan Rusdi Kirana menjelaskan ke media.

Hadir dalam acara kesepakatan kerja sama dan peletakan batu pertama MRO Tahap III ini, yakni; Menteri Perhubungan Budi Karya, Sekretaris Menko Perekonomian Susiwijono, Kepala BP Batam Edy Putra Irawadi, Dirut Batam Aero Teknik I Nyoman Rai Pering Santaya, Plt Gubernur Kepri diwakili Asisten Bidang Pemerintahan Provinsi Kepri Syamsul Bahrum.

Juga hadir Deputi III BP Batam Dwianto Eko Winaryo, Kapolda Kepri diwakili, Danlantamal IV Tanjungpinang, Kapolresta Barelang, dan Forkompimda se-Provinsi Kepulauan Riau.(*/anwar/kb) 

Editor : Dedy Suwadha







DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA