Sukses Tour de Bintan 2019, Sejarah Objek Wisata Pantai Trikora pun Terungkap

Sejarah Objek Wisata Pantai Trikora pun Terungkap



WARTAKEPRI.co.id, BINTAN – Pelaksanaan Tour de Bintan 2019 sukses digelar. Event tahunan yang berlangsung tiga hari 29-31 Maret 2019 tersebut berhasil menarik sekitar 2000 peserta dari 48 negara. Selama berlangsungnya kegiatan, tidak ada kendala berarti yang ditemui, baik oleh peserta maupun penyelenggara.

Berakhirnya Tour de Bintan 2019 bukan berarti berakhir pula aktivitas pendatang di Bintan atau Tanjungpinang. Sebelum kembali ke daerah atau negara asal, pendatang bisa refreshing sejenak dengan mengunjungi beberapa destinasi wisata yang ada di bumi Melayu ini.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, bagi pecinta wisata bahari bisa mengunjungi Pantai Trikora. Dari pusat Kota Tanjungpinang, pantai ini berjarak sekitar 45 Km. Panjang pantai ini mencapai 25 Km hingga terbagi dalam empat bagian. Yakni Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3, dan Trikora 4.

Di bagian awal Pantai Trikora, pengunjung tidak akan menemukan hotel atau akomodasi sejenisnya. Namun jika berkunjung ke Trikora 3 dan Trikora 4, barulah terlihat fasilitas bagi wisatawan. Tidak sulit menemukan hotel di sekitar daerah tersebut.

“ Di Pantai Trikora 3 dan Trikora 4, pengunjung akan menemukan banyak batu granit berukuran besar. Bahkan jenis batu ini ada yang berada jauh di tengah laut. Wisatawan bisa berfoto sepuasnya. Anak-anak kecil juga bisa mandi di pantai dengan aman karena nyaris tak ada ombak di sini,” ujarnya, Senin (1/4/2019).

Sejarah Terkait nama Trikora

Ada dua versi terkait nama Trikora. Versi pertama menyebut, nama Trikora berasal dari kata ‘three corral’ yang diberikan oleh wisatawan asing. Seiring berjalannya waktu, sebutan three corral menyesuaikan dengan lidah masyarakat lokal hingga menjadi Trikora. Untuk versi kedua, berhubungan dengan Tri Komando Rakyat. Dimana pada zaman pemerintahan Soekarno, pantai ini menjadi basis pertahanan wilayah terluar Indonesia,” ungkapnya.

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menambahkan, pantai lain yang bisa diunjungi adalah Pantai Siambang. Di sini pengunjung bisa menikmati keindahan pantai dari saung-saung yang dibangun pengelola, atau dari dermaga. Pada siang hari, air laut akan surut dan pengunjung bisa berjalan-jalan di hamparan pasir hingga sejauh lebih kurang 300 meter dari bibir pantai.

“Beberapa warga lokal biasa memanfaatkan masa surut untuk mencari kerang. Melihat aktivitas itu, tak sedikit dari pengunjung yang kemudian ikut-ikutan mencari kerang. Meski tak mendapat hasil, namun mereka tampak gembira. Jika cuaca sedang bersahabat, pengunjung juga bisa menikmati sunset di pantai ini,” katanya.

Kemenpar akan terus mensuport event ini karena memiliki potensi untuk sekaligus mengembangkan sektor pariwisata di Tanjung Pinang.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Tour de Bintan merupakan ajang bergengsi karena menjadi bagian dari kualifikasi kejuaraan sepeda tingkat dunia yaitu UCI Grand Fondo. Kemenpar akan terus mensuport event ini karena memiliki potensi untuk sekaligus mengembangkan sektor pariwisata di Tanjung Pinang.

“Sejauh ini, sport tourism menjadi salah satu konsep yang cukup berhasil menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Sport tourism bukan hanya sebagai pelengkap jenis wisata lain, tetapi benar-benar bisa diandalkan seperti halnya wisata seni budaya, wisata kuliner, dan lain-lain,” jelasnya.

Menpar Arief menegaskan, sport tourism tidak hanya diikuti para peserta lomba, tetapi akan ada pihak lain yang turut dalam kegiatan tersebut. Misalnya keluarga, pelatih, dan atau official. Ini juga harus digencarkan agar target kunjungan wisman sebesar 20 juta sepanjang tahun 2019 dapat tercapai.(*)

Sumber: Liputan 6







DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA