Realitas Refleksi Tiga Tahun Pemerintahan Awe Nizar Memimpin Kabupaten Lingga



Ikuti Berita Terbaru Kami

  • 35

WARTAKEPRI.co.id, LINGGA – Sudah sama-sama kita ketahui bahwa diawal masa pemerintahan Awe Nizar, bupati Lingga dihadapkan pada berbagai tantangan, sehingga menuntut beliau harus melakukan mobilitas tinggi dalam ragam aktifitasnya.

Alias Wello, Bupati Lingga yang dikenal enerjik ini, ternyata menyimpan rahasia yang menjadikannya selalu semangat dalam berbagai aktifitas. Beliau mengungkapkan bahwa, salah satu rahasianya adalah dikarenakan beliau sudah terbiasa dididik bekerja keras oleh orang tuanya sejak kecil, di dalam lingkungan yang sederhana, hingga kebiasaan-kebiasaan tersebutlah yang menjadikan dia sampai seperti sekarang ini, selalu bersemangat.

Meskipun diawal masa pemerintahannya beliau terpaksa membuat kebijakan yang tidak populis dengan merumahkan sebagian besar PTT dan THL Pemkab Lingga, namun hal tersebut dilakukan beliau bukanlah tanpa pertimbangan yang matang. Ada konsekuensi yang harus diambil untuk sebuah perubahan.

Baca Juga :  Pemkab Bintan akan Tata dan Buat Bundaran di Simpang Kilometer 16

“Walaupun dengan berat hati, tapi mau tidak mau, langkah yang tidak populis tersebut harus saya ambil. Namun bukan tanpa pertimbangan, hal tersebut saya lakukan guna menyelamatkan anggaran daerah, hingga bisa menghemat 16 Miliar per tahun,” kata beliau menjelaskan.

Tidak hanya langkah tersebut, gebrakan yang dia lakukan juga terbukti mampu menghasilkan efisiensi di semua sektor, hingga evaluasi berbagai program yang sebelum masa pererintahannya merupakan progam yang membebani anggaran, diantaranya melakukan evaluasi biaya perjalanan dinas, menunda program non prioritas, serta penyelesaian masalah defisit keuangan daerah dengan membayarkan hutang pemkab Lingga kepada pihak ketiga.

“Agar birokrasi kite menjadi lebih maksimal, suke atau tidak suke harus dilakukan perubahan, demi menyelamatkan anggaran agar tercipta birokrasi yang sehat. Adapun penghematan anggaran yang dilakukan diawal pemerintahan tersebut, dialokasikan untuk pelayanan dasar, yakni JKLT dibidang kesehatan, serta sekolah gratis 9 tahun dibidang pendidikan,” tegas beliau.

Baca Juga :  Perusahaan Pengolahan Minyak Goreng dan Biodesel Investasi di Batam Rp 1 Triliun

Beliau juga menambahkan langkah tidak populis lain yang ditempuhnya, yakni percetakan sawah di Kabupaten Lingga. Kebijakan ini dikenal ‘melawan arus’, namun dengan optimisme yang tinggi, akhirnya program yang awalnya hanya menggunakan dana pribadi beliau, sekarang sudah mulai mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat, utamanya dari Menteri Pertanian.

“Sederhana saje, awalnya sebelum percatakan sawah, saye melihat potensinye ade. Waktu itu saya masih menjabat sebagai ketua DPRD, saya sudah melihat peluangnya. Namun belakangan menjadi luar biase karena adanya doktrin ‘daerah maritim’ dengan kondisi geografis Kabupaten Lingga yang dikelilingi oleh pulau-pulau yang banyak, tapi saya malah ingin membuat sawah.”

Baca Juga :  Habisakan Ratusan Miliar, Lima Pelabuhan di Natuna Tak Kunjung Beroperasi

Dengan melihat peluang tersebut, maka terciptalah petak-petak sawah seperti saat ini yang bertitik fokus dibeberapa lokasi di Kabupaten Lingga, diantaranya di Desa Bukit Langkap, Desa Panggak Darat dan Desa Resang yang dibiayai melalui APBN dengan dukungan opsus TNI Angkatan Darat.

Beliau mengambil langkah tersebut dengan berbagai pertimbangan, diantaranya peluang menyerap tenaga kerja yang lebih banyak di bidang pertanian.

“Kalau di darat (red: pertanian) seluruh masyarakat bisa melakukannya, laki-laki dan perempuan bisa ikut. Tapi kalau di laut, tak semue orang bise, biasenye kebanyakan laki-laki, apelagi kalau musim angin kencang,” kata beliau menjelaskan.(*)

Kiriman : Ravi Azhar
Editor : Dedy Suwadha

Ikuti Berita Terbaru Kami

  • 35

DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
WIRARAJA
AWAL BROS

Berita Terkait