Nasib Kucing-kucing Liar yang Ditelantarkan, Hanya Manusia yang Memiliki Kecendrungan Psikopat yang Tega Menyiksanya



WARTAKEPRI.CO.ID – Manusia, hewan, dan tumbuhan ditakdirkan untuk hidup berdampingan di dunia ini. Ada sebab mengapa manusia diciptakan, ada sebab mengapa hewan diciptakan, dan pasti juga ada sebab mengapa tumbuhan diciptakan.

Manusia dianggap sebagai penguasa bumi. Bagaimana tidak? Manusia menguasai setiap hal yang ada di bumi. Makanan di produksi manusia, tempat tinggal dikuasai oleh manusia, pertambangan, hutan, dan lain-lain dikuasai oleh manusia.

Lalu, apakah manusia sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang manusia?

Kucing merupakan salah satu hewan yang hidup berdampingan dengan manusia. Sama dengan anjing, kucing merupakan makhluk yang lucu dan menggemaskan.

Banyak manusia yang menyukai kucing. Jika beruntung, kucing-kucing tersebut mendapatkan majikan, tempat tinggal, makanan serta pengobatan yang layak. Namun banyak juga yang menganggap hewan yang satu ini sebagai hama.

Lalu, bagaimana nasib kucing liar diluar sana yang dibuang oleh para pemiliknya, atau yang memang tidak memiliki pemilik sama sekali?

Dilansir melalui bbc.com, kucing ternyata bisa membaca ekspresi wajah manusia dan kucing mampu mempelajari kemampuan ini dalam kurun waktu tertentu.

Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah kucing memiliki perasaan yang sama seperti perasaan manusia jika disakiti?

Banyak kasus terjadi, dimana manusia tega menyakiti kucing liar. Salah satu kasus terjadi di Bogor pada bulan Juni lalu. Dilansir melalui bbc, seekor kucing liar yang tengah hamil ditemukan dengan dua kuping berdarah karena dipotong, luka bakar disiram air panas di bagian perut dan empat puting susu yang dipotong.

Lalu, siapakah pelaku utama dari penyiksaan kucing tersebut?

Manusia.

Tahukah anda bahwa manusia yang kerap kali menyiksa hewan mungkin Memiliki Tendensi Psikopat?

Dilansir melalui hellosehat.com, ternyata penyiksaan terhadap hewan juga dapat mengindikasikan seseorang memiliki sifat Dark Triad (Machiavellianism, narcissism, dan psychopathy). 

Hal yang ingin dibuktikan oleh Dr. Phillp Kavanagh tecermin dalam studinya. Studi ini menyatakan bahwa sifat psikopat berhubungan dengan intensi seseorang menyakiti hewan dengan sengaja.

Terdapat bukti nyata dalam kehidupan, yaitu banyak pembunuh berantai, seperti Jeffrey Dahmer, memulai karir pembunuhannya pada masa kecilnya dengan membunuh hewan, mengumpulkan hewan yang telah mati, memutilasi, dan melakukan masturbasi dihadapan hewan-hewan yang telah ia potong-potong sebelumnya.

Mary Bell, seorang pembunuh yang korbannya anak kecil, mengaku pernah mencekik burung merpati hingga mati pada masa kecilnya.

Memang, tidak semua manusia tega melakukan hal-hal tersebut. Namun, layakkah manusia yang kerap menyiksa hewan-hewan tidak bersalah tersebut disebut sebagai manusia yang memiliki peri kemanusiaan?

Apakah mereka pernah berfikir bahwa kucing juga merasakan sakit?

Jika kita pikirkan, saat manusia sakit, kita sebagai manusia masih mampu mengobati diri kita sendiri ataupun tentulah ada satu atau dua orang anggota keluarga atau teman yang akan membantu merawat kita.

Namun, bagaimana jika kucing ataupun hewan liar tersebut sakit?

Bersediakah semua orang membantunya? Tidak.

Karena, tidak semua orang suka dengan kucing maupun hewan liar lainnya. Masyarakat terkadang masih menganggap remeh hewan liar.

Dijalanan misalnya, banyak kasus kematian kucing maupun anjing liar yang disebabkan oleh pengguna jalan raya. Namun, tidak sedikit dari mereka yang bertanggung jawab setelah menyebabkan kematian pada hewan-hewan tersebut.

Bahkan banyak sekali mayat-mayat kucing maupun yang telah mati dibiarkan begitu saja dijalanan.

Kerap kali kita tidak memikirkan mengenai nasib hewan-hewan liar diluar sana. Ketika mereka merasa lapar, mereka hanya dapat meminta dengan wajah memelas kepada manusia.

Manusia yang memiliki rasa empati mungkin akan memberikan sebagian makanannya terhadap hewan-hewan tersebut. Sedangkan sisanya kerap kali mengusir, atau bahkan memukuli dan menyiksa hewan tersebut.

Lalu, di team manakah diri anda?

Di team manusia yang memiliki rasa empati tinggi atau sebaliknya? (Okta)

 







DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA