DPRD Batam Bahas Pansus Ranperda Rumah Potong Hewan, Tolak Daging Anjing


Ikuti Berita Terbaru Kami

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – DPRD Kota Batam menggelar rapat pansus pembahasan Ranperda kesehatan dan rumah potong hewan di Kota Batam pada Rabu, 11/10/18 di ruang rapat pimpinan DPRD Kota Batam.

Selain itu, rapat yang dipimpin oleh H Muhammad Mustofa selaku ketua Pansus ini dihadiri oleh Perwakilan dari Asosiasi Dokter Hewan Indonesia dan Aspedam (Asosiasi Pedagang Daging dan Ayam).

Menurut Mardanis, selaku Kepala dinas ketahanan dan pangan Peraturan hewan ini masih kurang. Sehingga terjadi banyak komplain terhadap pihak pihak.

“Gangguan ketentraman batin terhadap pangan hewan yg kita makan apakah sehat dan halal,” ungkapnya.

Mengenai daging pangan sendiri, MUI bahkan meminta peraturan daerah dibuat standar. Daging harus sehat dan halal. Khususnya daging ayam.

Baca Juga :  Tim WFQR Lantamal Tanjungpinang Amankan 10 Ton Pasir Timah ke Malaysia

Sedangkan perwakilan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Dokter Paulus, meminta agar perda mengenai hewan-hewan seperti anjing dan kucing terlantar untuk dibuatkan rumah singgah.

Selain itu, Paulus meminta agar ada peraturan mengenai perdagangan daging anjing untuk dikonsumsi. Karena anjing sebenarnya bukanlah hewan pangan. Hal ini sudah berlaku di Bali.

Ia berharap permintaan ini dapat diakomodir oleh pemerintah daerah, dan membuat Batam menjadi kota pertama di Sumatera yang bisa membuat perda terhadap konsumsi daging anjing ini.

Asosiasi pengusaha petshop Indonesia mengatakan bahwa populasi dari petshop terus meningkat. Terlebih anjing dan kucing. Dari yang awalnya 5 menjadi 23. Pemeliharaan hewan ini bukan lagi sekedar hobi. Namun rasa kasih dan sayang.

Baca Juga :  Telkomsel dan Samsung Tawarkan Pengemudi Grab Paket Komunikasi Rp 75 Ribu per Bulan

Ketika ada catery (pemelihara kucing) ataupun breeder diharapkan ada pengawasan dari dinas terkait karena limbah yang mengganggu.

Hal ini perlu pengawasan ketat agar tidak terkena wabah rabies. Karena jika sudah terkena rabies, maka anjing dan kucing harus ditembak mati agar tidak menjangkit masyarakat.

Asosiasi Petshop Indonesia ini mengatakan, bahwa di Batam belum ada lahan penguburan hewan mati. Di Thailand di China, sudah ada wisata penguburan hewan. Kenapa perlu dibuat? Karena populasi hewan tersebut sangat banyak.

Baca Juga :  Polsek Batam Kota Kembali Bekuk Pejambret Ibu-ibu yang Beraksi Pagi Hari

Jika hewan tersebut mati, masyarakat bisanya mengubur atau membuangnya kelaut dan kesungai. Hal ini dapat mencemari lingkungan. Alternatifnya, mereka menyarankan untuk membut pemakaman khusus hewan seperti anjing dan kucing. Hal itu bisa menjadi objek wisata jika ditata dengan baik.

Selain itu kita harus memiliki lahan untuk shelter bagi hewan terlantar. Karena jika banyak populasinya bisa menjadi hama. Kita lihat di Singapura, mereka sudah sangat menghormati hak hak hewan bahkan memiliki asuransi.

Bahkan mereka mengatakan bahwa seharusnya di Indonesia ini sudah ada standarisasi petshop.(*)

Tulisan : Okta Safitri

Ikuti Berita Terbaru Kami


DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA
AWAL BROS