Inilah Kondisi Terkait Pasokan Gula Dunia

WIRARAJA

WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Persediaan gula global saat ini siap menyentuh rekor dengan perlambatan pertumbuhan permintaan dan lonjakan hasil produksi membuat gula menjadi komoditas dengan kinerja terburuk selama 2018.

Para pelanggan gula mulai meningkatkan kewaspadaannya pada dampak kesehatan yang disebabkan dari terlalu banyak mengonsumsi gula. Sejumlah perusahaan dari produsen buah kaleng seperti Del-Monte hingga Mondelez International Inc. terus menggembar-gemborkan produknya yang rendah gula.

Laporan riset Green Pool Commodity Specialist menyebutkan bahwa meskipun konsumsi gula global tercatat masih mengalami peningkatan, laju pertumbuhannya terus melambat hingga mencapai rata-rata 1,4% pada beberapa musim belakangan ini, turun dari jumlah rata-rata 1,7% selama sedekade terakhir.

Laju pertumbuhan konsumsi gula yang melambat beriringan dengan produksi gula yang melonjak, terutama dari India, produsen gula terbesar nomor dua di dunia. Petani di Thailand juga mengungkapkan hal serupa yang sudah memanen tanaman dalam jumlah besar.

Data Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan bahwa pasokan gula dunia membengkak ke tingkat tertinggi yang pernah ada pada musim ini dan diprediksi akan tetap dalam level seperti saat ini hingga tahun depan.

Perdagangan berjangka gula di New York sudah terjun sekitar 25% selama 2018. Tercatat sebagai penurunan terbesar yang pernah ada. Di perdagangan ICE Futures Selasa (10/7/2018), harga gula turun 0,11 poin atau 0,96% menjadi US$11,40 sen per pon.

“Kecuali ada masalah cuaca, sepertinya tidak ada harapan harga gula untuk bisa reli,” kata Donald Selkin, kepala strategis pasar Newbridge Securities Corp., yang mengawasi dana sekitar US$2 miliar.

“Semua orang mulai menjauhi penggunaan gula dan produk mengandung gula. Bisa dilihat di pasar swalayan dan pasar tradisional. Permintaan terhadap gula akan terus berkurang dan sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, sehingga harganya mungkin akan tetap rendah untuk saat ini.”

Komisi Perdagangan Komoditas  Berjangka AS mencatat pada pekan yang berakhir pada 3 Juli, para pengelola keuangan menaikkan posisi jangka pendeknya hingga tiga kali lipat, atau selisih taruhan kenaikan dan penurunan harga, menjadi 54.736 kontrak berjangka dan opsi. Pergerakan tersebut muncul setelah short holding-nya naik 15%, dan taruhan jangka panjangnya turun 7%.

Produksi gula global akan melampaui permintaan hingga 19,6 juta metrik ton dalam 12 bulan yang berakhir pada 30 September mendatang, jumlah terbesar yang pernah ada. Kelebihan produksi tersebut bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi permintaan tahunan dari China, pengimpor gula utama dunia.

Setelah para petani memanen tebu dalam jumlah yang sangat besar, Asosiasi Penggiling Tebu India menyatakan pada 3 Juli lalu bahwa para pengolah gula akan meningkatkan kuota ekspornya hingga menyentuh rekor sebanyak 6 juta ton.

Asosiasi tersebut memperkirakan hasil produksi India akan ada sebanyak 32 juta ton, naik 58% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, di Brasil, lonjakan persediaan etanol dan harga biofuel yang turun membuat para penggiling tebu dapat memproses lebih banyak tanaman untuk dijadikan produk gula.

Ada kemungkinan bahwa panen bisa saja gagal, terutama jika cuaca memburuk melebihi perkiraan. Kondisi kekeringan yang merusak tanaman di Utara hingga Pusat Brasil, wilayah produsen gula terbesar di dunia. Potensi pola cuaca El Nino pada akhir tahun ini juga kemungkinan berpotensi merusak tanaman tebu di Asia.

Namun, dengan penurunan permintaan di pasar gula, hasil produksi yang sedikit juga tetap bisa terserap. Dampaknya pada kesehatan dan adanya pajak pada minuman bergula terus menurunkan konsumsi yang terus digaungkan seiring dengan perkembangan ekonomi. Green Pool mengungkapkan bahwa faktor-faktor tersebut saat ini sedang “direplikasi” di pasar berkembang.

“Seluruh elemen bearish yang tersemat pada gula masih terus ada, dan beberapa di antaranya bahkan kian memburuk. Kami melihat dalam jangka panjang akan ada surplus dengan jumlah besar. Kami sedang memasuki pasar bearish untuk yang keempat atau kelima kalinya,” kata Frank Jenkins, Presiden JSG Commodities di Connecticut.

Sumber : bisnis.com

Foto       : Istimewa/net

Ikuti Berita Terbaru Kami

  • 56
DEWAN PERS WARTAKEPRI
BANNER BOTANIA

PEMPROV KEPRI
PEMKO TANJUNGPINANG
PEMKO BATAM PEMKAB ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA

Berita Terkait


DPRD KEPRI
DPRD BATAM
DPRD LINGGA