Forum Pimred Kepri: Wartawan Perbatasan Harus Berani Menyampaikan Fakta



Ikuti Berita Terbaru Kami

  • 36

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Wartawan yang bertugas meliput peristiwa di perbatasan, harus berani menyampaikan fakta.
Meskipun konsekwensinya, tak jarang harus menghadapi tekanan, baik itu dari aparat maupun
masyarakat.

Demikian ungkap Kepala Perwakilan LKBN (Lembaga Kantor Berita Negara) Antara, Evy Samsir dalam paparannya di depan peserta diskusi publik soal perbatasan, di Hotel PIH Batam Center, Selasa, 15 Agustus 2017.

Peserta Diskusi Forum Pimred Kepri Bahas Peran dan Nasionalisme Wartawan Perbatasan

Dalam diskusi yang digelar oleh Forum Pimpinan Redaksi (Pimred) Provinsi Kepri itu, Evy Samsir
menambahkan, dirinya sudah melakukan perjalanan liputan di pulau-pulau terluar Provinsi Kepri.

“Di Pulau Pekajang, saya melihat tentara di sana bukan minum air tawar atau air hujan lagi,
tapi air laut,” ungkapnya dalam diskusi publik bertajuk, “Peran Media di Wilayah Perbatasan
Dalam Membangun Semangat Nasionalisme Guna Mensukseskan Kepentingan Nasional” itu.

Baca Juga :  Latihan Tari Kolosal Malin Kundang di HPN Sumbar Kian Intensif

Itulah bukti, lanjut Evy Samsir, kecintaan para tentara itu kepada republik ini. Kemudian,
kisah mereka itu pun diberitakan. Sampai akhirnya mendapat atensi dari Panglima TNI.

Sementara itu, Ketua Forum Pimred Kepri, Andi, dalam paparanya mengungkapkan, saat ini bentuk
dari peran yang dilakukan oleh manajemen Haluan Kepri untuk mendukung nasionalisme di
perbatasan adalah, dengan memberkan subsidi.

“Kalau dihitung, ongkos kirim koran ke Natuna, Anambas atau Linggu itu sudah tak cukup lagi,
kami rugi dari sisi bisnis,” ungkap Andi.

Baca Juga :  Dapat Piagam, Forum Pimred Kepri Gelar Diskusi Soal Perbatasan di PIH Batam

Tapi, lanjut Pemred Haluan Kepri itu lagi, demi membangun rasa nasionalisme dan kepentingan
nasional, maka manajemen Haluan Kepri rela mensubsidi.

Sementara itu, dosen Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Riau Pekanbaru, Muchid Albintani menuturkan, ada tiga jenis katagori wartawan di
perbatasan.

” Pertama, sikap wartawan di perbatasan menjadi tolok ukur atau indikator terhadap klasifikasi
Oportunis, Pragmatis dan Mandiri,” ujar pria kelahiran Kijang, Pulau Bintan, Kepri itu.

Kedua, lanjut mantan wartawan Majalah Tempo di Malaysia itu, sikap wartawan di perbatasan
sebagai ketauladanan dan spirit bagi membangun semangat nasionalisme dan mensukseskan
kepentingan nasional.

Baca Juga :  PLN Menyumbang 60 Juta Untuk Korban Kebakaran Pondok Pesantrean Bengkong

Ketiga, karena berada di wilayah perbatasan sikap wartawan dapat menghindari potensi terjadinya
separatisme dan disintegrasi bangsa.

Keempat, sikap wartawan dapat memperteguh apa yang menjadi tolok ukur serta wujud nyata
‘kepentingan nasional’ tersebut.

Diskusi publik yang dihadiri BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dari berbagai kampus itu diawali
dengan paparan Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (Unrik) Batam, Rumbadi
Dalle.

” Selama ini kita selalu tunduk sama asing, kita harus punya keseimbangan dalam membangun spirit nasionalisme di perbatasan,” tegas Rumbadi Dalle yang 16 tahun berkarir sebagai wartawan di Majalah Tempo.(*)

Editor : Dedy Swd

Ikuti Berita Terbaru Kami

  • 36

DEWAN PERS WARTAKEPRI
WIRARAJA
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB ANAMBAS
PEMKAB LINGGA
PEMKO BATAM PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
DPRD BATAM

Berita Terkait