NEWS VIDEO : Prabowo Subianto Tetap Dicintai Rakyat NKRI


Ikuti Berita Terbaru Kami

WARTAKEPRI. co.id,  JAKARTA – Merebut kekuasaan, bisa-bisa saja dilakukan, tapi setiap usaha untuk melakukan hal tidak sesuai dengan konstitusi akan mengandung risiko sangat besar, kata Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.

“Tapi sesudah (merebut kekuasaan) itu bagaimana? Mau memimpin dan memerintah tanpa legitimasi?” kata Prabowo. Saat berbicara di acara “Rosi Wawancara Khusus Prabowo Subianto” di Kompas TV   lalu.

Berikut Petikan Wawancara Kompas TV yang mengangkat Sosok sang Negarawan  NKRI yakni Prabowo subianto:

Seperti dilansir Rimanews (30/11) Mantan komandan jenderal Kopassus itu ditanya soal keterlibatan tentara dalam kudeta menyusul kunjungan Presiden Joko Widodo ke markas-markas komando tentara bulan ini.

Menurutnya, kudeta terhadap pemerintah ada bermacam-macam, mulai dari kudeta keuangan, kudeta konstitusional dan kudeta militer.

“Kudeta artinya pengambilalihan kekuasaan di luar norma, di luar kebiasaan,” kata Prabowo rekaman video acara itu yang diunggah ke YouTube oleh akun Kompas TV yang dimulai di menit 22.48.

Baca Juga :  Paska Gempa, Badan SAR Nasional Masih Putus Kontak dengan SAR Mentawai

Dia menjelaskan, kadang-kadang ada pihak yang merasa, kudeta bisa menjadi jalan penyelamatan karena menilai suatu keadaan di mana pemerintahnya membuat kesalahan-kesalahan dan blunder-blunder.

“Tapi sejarah juga mengajarkan,kudeta sering menimbulkan kudeta, kudeta, kudeta lagi. Jadi kalau negara sudah punya sejarah kudeta, risikonya besar dan khusus di Indonesia, kudeta militer tidak pernah berhasil,” kata Prabowo.
Dia mengingatkan, suatu bangsa sudah yang biasa menurunkan pemimpin yang dipilih secara elektoral dan konsititusional, maka akan menjadi kebiasaan dan berujung pada budaya politik yang tidak baik.

Wawancara Prabowo dengan Kompas TV berlangsung beberapa jam setelah Kapolri, Jenderal Tito Karnavian bertemu dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI di kantor MUI untuk merumuskan aksi 2 Desember mendatang. Dalam acara itu diputuskan, aksi 2 Desember boleh tetap berlangsung dengan beberapa syarat, antara lain hanya dilakukan di pelataran Monas.

Dua pekan sebelumnya, Tito menuding ada kelompok-kelompok yang akan melakukan makar dan karena itu polisi akan membubarkan aksi demo 2 Desember.

Baca Juga :  Rencananya Malam Ini Prabowo Akan Temui UAS

Menjawab pertanyaan soal makar yang dilontarkan kapolri, Prabowo menjelaskan, sebagai orang yang berada di luar pemerintah, dirinya tidak punya kemampuan untuk mendeteksi atau mendapat bukti-bukti.

“Kalau pihak berwajib menyatakan ada upaya ke arah situ (makar), kita perlu waspada. Hanya saya kira, setiap usaha untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan konstitusi, itu mengandung risiko yang sangat besar,” katanya.
Prabowo menjelaskan, ujung kekuasaan adalah harus memiliki legitimasi dan diterima oleh rakyat. Masalahnya, elite politik kadang-kadang terlalu seenaknya, dan asyik dengan intrik-intrik sendiri sehingga membuat rakyat dongkol dan tertekan.

“Budaya bohong. Budaya tipu. Semua bisa ditipu. Rakyat pun mau ditipu. Tapi ternyata, rakyat tidak bodoh. Apalagi sekarang. Rakyat punya handphone, internet di mana-mana.Janganlah anggap rakyat kecil itu bodoh,” katanya.
Sebelum menjawab soal makar dan kudeta, Prabowo ditanya tentang suasana genting yang terjadi belakangan ini.

Menurutnya, semua sudah mengetahui ada keadaan khusus di Ibukota, di mana gubernur non-aktif Basuki Tjahaja Purnama yang lebih dikenal sebagai Ahok, telah melakukan sesuatu yang dirasakan oleh banyak kalangan terutama umat Islam dan kalangan rayat bawah sebagai suatu penistaan agama.

Baca Juga :  NEWS VIDEO : Goyang Bersama Ribuan Masyarakat Kepri untuk Nusantara Bersatu

“Ini yang membuat kita tegang. Kalau kita obyektif sebelumnya pun, mungkin gaya beliau (Ahok) bicara, sikap-sikap beliau dianggap banyak menyakiti hati banyak kalangan. Ini yang membuat suasana semakin panas. Apalagi masalah agama di negara kita sangat sensitif,” katanya.

Di bagian lain jawabannya untuk pertanyaan yang lain, dengan menyitir penjelasan bekas PM Malaysia, Mahathir Mohamad, Prabowo menjelaskan bahwa sifat bangsa (Melayu) mirip kepiting.
“Kepiting kalau ada teman bisa naik. Hampir 90 derajat bisa naik. Tapi kalau ada suatu kolam, temannya sudah mau lolos, keluar, temannya sendiri yang menurunkan. Memang sifat kita
suka menjegal teman sendiri,” katanya. (Rimanews – Video Youtube)

Ikuti Berita Terbaru Kami


DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA
AWAL BROS