Enam Terdakwa Intel Bodong Memeras Pengusaha Mulai Disidangkan



BATAM, WARTAKEPRI.co.id – Enam terdakwa dugaan pemeras David Wigen disidangkan oleh Pengadilan Negeri Batam. Lima terdakwa dijadikan satu berkas diantaranya Harifuddin, Darwis Tanjung, Deni, Haris dan Muhammad Tamrin. Sementara satu terdakwa bernama Andi Burhanuddin berkasnya terpisah.

Sidang perdana keenam terdakwa yang diketuai Yetty Vera Simanjuntak didampingi Endi Nurindra Putra dan Iman Budi Putra SH, terpaksa ditunda karena saksi tidak dapat hadir dalam persidangan . Jaksa Penuntut Umum (JPU), Eggi SH membacakan dakwaan dan pasal yang akan dikenakan pada Keenam terdakwa.

“Keenam terdakwa didakwa melanggar pasal 368 ayat 1dan 2 dan pasal 335 ayat 1 KUHP,”jelas JPU

Dalam dakwaan JPU menyatakan bahwa keenam terdakwa telah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dengan cara memaksa atau pemerasan. Hal ini terdakwa lakukan pada tanggal 20 Januari 2016 pukul 19.00 wib bertempat di hotel Hans lantai 3 Nagoya Batam.

Berawal dari terdakwa Muhammad Tamrin menghubungi korban David Wigen dan Melinda pada tanggal yang sama sekitar pukul 18.00 wib untuk menanyakan soal bisnis minyak. Saat mereka ketemu dengan korban langsung membawa ke hotel Hans kedalam kamar sementara saksi Melinda menunggu di lobi.

Lima terdakwa menanyakan bisnis minyak yang gagal pada David Wigen. Terdakwa Darwis mengatakan pada korban, “gara gara kamu bisnis minyak kami dibatalkan”. Kami meminta agar dibayar finalty atas perjanjian itu.

Sebelumnya, David Wigen dan Jaylani (WN Singapura) melakukan perjanjian untuk berbisnis minyak di Indonesia.

Dalam dakwaan JPU yang dibacakan jaksa Eggi mengatakan Jaylani meminta mencarikan minyak legal kepada David Wigen. Namun, perjanjian kerjasama tersebut hanya dilakukan melalui media sosial (Whatshap).

“David Wigen menyanggupinya dan meminta bantuan kepada terdakwa Haris Rumaya alias Haris untuk mengurus semua transportasi dan akomodasi untuk membawa minyak tersebut ke tempat Jaylani.” ujar JPU.

Sementra yang menjadi negosiasi antara David Wigen dan pihak perusahaan yang akan dituju terdakwa Muhammad Tamrin.
David Wigen meminta Tamrin mencarikan minyak, sementara Haris mengurus transportasi. David Wigen mengirimkan berkas perjanjian kerjasama kepada Jaylani.

Dalam surat perjanjian tersebut tertulis persyaratan ada uang Rp 2 miliar. Tapi sebenarnya uang tersebut tidak ada. Dia kirimkan berkas itu melalui pesan Wa.

Namun setelah berkas itu dikirim melalui pesan Wa, tiba-tiba Jaylani mengatakan kalau perjanjian kerjasama itu dibatalkan. David Wigen pun bingung dan mencoba menjelaskan terhadap dua temannya terdakwa Haris dan terdakwa Muhammad Tamrin.

“Tapi saat dikasih penjelasan, terdakwa Haris dan terdakwa Tamrin ini tidak terima. Dia meminta uang pinalty atau ganti rugi sebanyak Rp 50 juta karena perjanjian bisnis itu tidak jadi,” kata JPU.

Untuk menakut-nakuti korban, terdakwa Haris dan terdakwa Tambrin membawa temanya yang lain masing terdakwa Deni, Darwis Tanjung, Andi, Haripuddin. Terdakwa Deni mengaku sebagai anggota BIN.

Ia pun memperlihatkan kartu keanggotaanya lengkap dengan senjata airsoftguns.
David Wigen diancam da ditakut-takuti jika tidak memberikan uang sebanyak Rp 50 juta atau akan dihabisi oleh keenam orang tersebut.

Saat itu juga, David Wigen yang didalam keadaan panik mengatakan hanya mempunyai uang sebanyak Rp 5 juta berbentuk cash. Selanjutnya, ia mentrasnfer uang kepada salah satu pelaku sebanyak Rp 5 juta.

“Total yang sudah dikirim sebanyak Rp 10 juta. Dan uang itu langsung digunakan para pelaku untuk membayar hotel dan makan,”kata JPU.(nix)







DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA