Bidan Elvita Dituntut 5 Tahun Penjara Langgar Pasal 76 dan 77


Ikuti Berita Terbaru Kami

BATAM, WARTAKEPRI.co.id – Bidan Elvita Rozanah alias Elvita alias Puang, merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintahan Kota Batam yang bertugas di Puskesmas Batuampar Batam.

Disamping sebagai PNS, terdakwa memiliki pekerjaan lain yaitu pemilik sekaligus pengelolah Panti Asuhan Risky Khairunisah Batuampar yang tersangkut kasus soal penelantaran, tindak kekerasan fisik maupun sikis pada anak pantinya.

Atas perbuatan terdakwa, maka Jaksa Penuntut Umum ( JPU ), Martua Ritonga SH dan Haryo SH menuntut terdakwa melanggar Pasal 77B juncto Pasal 76B Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Selain terbukti menelantarkan anak-anak Panti Asuhan Rizky Khairunnisa, terdakwa juga terbukti melakukan tindak kekerasan sepanjang berdirinya panti. Sehingga terdakwa juga ‎dijerat dengan Pasal 80 ayat (1) juncto Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Baca Juga :  Sidang Oknum Polda Kepri Kasus Narkoba di Pengadilan Batam

Dari beberapa pasal tersebut, terdakwa dituntut hukuman 5 tahun penjara, Rabu (24/2/2016) dihadapan Majelis Hakim ketua Sarah Louis Simanjuntak, anggota Endi dan Jassael Manullang SH di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Menurut JPU, pada terdakwa tidak menemukan sama sekali alasan pembenar maupun alasan pemaaf yang dapat menjadi pertimbangan atau kekuatan penuntutan.

 Karena ‎terdakwa Puang terbukti secara terang-terangan melakukan tindak pidana penelantaran dan kekerasan terhadap anak-anak panti.

“Terdakwa terbukti melakukan kekerasan kepada beberapa saksi korban, yang masih berusia dibawah 17 tahun. Bilqis balita berusia sekitar 22 bulan. Dari hasil Visum Et Revertum yang dikeluarkan petugas menguatkan terdakwa melakukannya,” kata JPU Martua, membacakan tuntutannya.

Baca Juga :  Oknum Satpol PP Pemko Tanjungpinang Diamankan Polres‎

Bukti kuat berupa luka robek dikemaluan luar, dalam dan bekas tanda kekerasan ditubuh‎ Bilqis. Selain itu luka bekas pukulan benda tumpul, disekujur tubuh balita  tersebut.

Selain Bilqis, anak panti lainnya yakni Yasin juga mengalami luka sobek di pelipis matanya‎. Saat saksi korban, Yasin dipertanyakan oleh petugas Pekerja Sosial (Peksos) Kementrian Sosial (Kemensos) RI, serta Dinas Sosial dan Pemakaman (Dinsoskam) Kota Batam. Yasin menyatakan luka tersebut karena perbuatan Elvita alias Puang (Nyonya besar).

“Saat dipertegas, saksi korban Yasin menyebut Puang yang buat  luka robek dikepala dan pelipis mata,” ujarnya

Sebelumnya, lebih sepuluh (10) saksi dan 5 saksi korban telah diperiksa. Hasilnya, seluruh kesaksian menyudutkan dan menegaskan bahwa Puang seorang yang ‘jahat’ dimata korban-korbannya.

Baca Juga :  Penumpang asal Malaysia Ini Bikin Petugas Bea Cukai Batam Gigit Jari

Para saksi yang telah diperiksa, yakni Peksos, Kemensos RI, Dinsoskam Kota Batam, Dokter pemeriksa, Donatur, guru penangkap, Verbalisan, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPAD) Kota Batam serta korban.

“Penerapan Pasal-perpasal dinilai tepat, karena terdakwa telah melakukan tindak kekerasan dengan bukti luka-luka dan bekas kekerasan lainnya. Selain itu, anak-anak juga ditelantarkan secara kesehatan, pendidikan, serta tidak sesuai dengan SNPA ( Standar Nasional Pengasuhan Anak),” ungkapnya.

Bukan itu saja, terdakwa juga pernah merantai kaki dan tangan Steven, yang dianggap terdakwa hyperactive. Tindakan sodomi atau kekerasan seksualitas juga terjadi di panti terhadap anak anak. (nikson).

Ikuti Berita Terbaru Kami


DEWAN PERS WARTAKEPRI PEMPROV KEPRI
DPRD KEPRI
PEMKO BATAM
DPRD BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA
AWAL BROS