Wartakepri, Pembunuhan orang tuanya sendiri di Bintan

Heriawan Membunuh Diantara Halusinasi dan Gangguan Jiwa

BANNER WARTA KEPRI

Klik Follow Untuk Baca Berita Terbaru Kami :

  • 33

WARTAKEPRI.CO.ID, BINTAN – Kejadian yang pembunuhan yang menggemparkan Bintan hingga Semenanjung Negeri Segantang Lada Provinsi Kepulauan Riau menimbulkan rasa penasaran wartakepri.co.id untuk menelusuri riwayat kehidupan sehari-hari Heriawan alias A Kuan yang tega menghabisi nyawa Bong Jioe Kioeng, ayah kandungnya.

Penelusuran pertama dalam mencari tahu keseharian pelaku dilakukan kepada Randi yang tak lain adalah tetangga pelaku di Jalan Rahayu, RT 03 RW 08 Kelurahan Kijang Kota Kecamatan Bintan Timur. Randi yang terlibat mengamankan pelaku setelah kejadian mengatakan bahwa Heriawan alias A Kun sering bertengkar dengan kakaknya. Randi menambahkan bahwa pelaku pendiam dan susah diajak komunikasi, sehingga kepribadiannya susah dimengerti. Tapi yang melekat dalam ingatan Randi adalah curhat Bong Jioe Kioeng korban ketika mengatakan bahwa sudah tidak sanggup lagi menghadapi anaknya, A Kuan. Namun secara umum, dalam pandangan Randi, pelaku sering berdiam diri didepan rumahnya.

“Ayahnya sempat curhat mengeluh tidak sanggup lagi menghadapi A Kuan”, ujar Randi.

Penelusuran selanjutnya kemudian mengarahkan wartakepri.co.id untuk mewawancara salah satu murid private Herman abang kandung A Kuan. Herman yang dikenal warga sekitar pintar membuka kursus belajar tambahan dirumahnya. Sehari-hari rumah tersebut ramai didatangi pelajar yang menjadi murid Herman dari jenjang SD hingga SMA. Siswi yang tidak mau namanya dituliskan ini mengaku bahwa pribadi A Kuan mudah tersinggung. Dirinya dengan santai menyetel suara TV dengan volume yang keras ketika proses belajar anak-anak dirumahnya berlangsung walaupun ditegur abangnya Herman. Terkadang itu yang menyulut pertengkarang keduanya. Bukan hanya itu, jika anak-anak ada yang tertawa, A Kuan seolah tersinggung dengan mematikan TV didepannya seraya menyeracau kepada abangnya. Sesekali terkadang dirinya tidak jauh dari kakaknya yang sedang mengajari anak-anak dan mengangkat kakinya diatas meja. Berbagai tingkah tersebut yang kemudian membuat Herman sempat curhat kepada anak muridnya tersebut.

“Tak tahu sopan dia itu”, ujar siswi tersebut.

Informasi yang diperoleh wartakepri dari salah seorang perangkat warga. Heriawan yang dikenal sehari-hari menganggur tersebut ternyata mempunyai kebiasaan mudah bosan terhadap pekerjaan. Sudah banyak pekerjaan yang dilakukannya namun tak ada yang bertahan lama. Hal yang mengagetkan wartakepri adalah informasi bahwa pelaku sering jogging di jalan sekitar RSUD ketika sore hari. Sebuah informasi yang memaksa reporter media ini untuk kembali mengingat-ingat kejadian sekitar 2 bulan lalu tak jauh dari Tugu Tanjak. Seorang lelaki dengan pakaian hitam mencolok terlihat jogging menyusuri jalan dari RSUD Kijang hingga ke Pasar Berdikari Kota Tua Kijang. Headseat warna putih terpasang ditelinganya. Dia berlari pelan dan terlihat cuek dengan warga yang memperhatikannya. Seolah tidak ada yang bermasalah dengan kejiwaannya.

“Iya, dulu dia sering jogging di jalan itu saat sore”, ujarnya sumber tersebut.

Tidak puas sampai disitu, wartakepri.co.id juga memperoleh informasi bahwa pelaku sempat berhalusinasi dengan kata-kata akan menghabisi ketiganya. Adapun yang A Kuan maksud adalah, Kakaknya Herman, Bong Jioe Kioeng dan NH (Ibunya).

“Tunggu tiga hari lagi”, ujarnya seraya meminta dirinya dipanggil ksatria.

Ketua RW 08 Alamsyah dan Ketua RT 03 Ibu Wasiah yang dijumpai wartakepri mengatakan bahwa pihaknya memang sering mendapat laporan terkait perilaku A Kuan. Namun laporan tersebut hanya pertengkaran biasa dan sekali-kali A Kuan dengan Herman, abangnya terlibat perkelahian. Sementara itu, NH Ibunya yang sudah lama sakit tersebut saat kejadian berlangsung hanya meratapi tingkah keji anaknya. Wanita tua tersebut hanya mampu berdiri dipapah dengan alat bantu penyangga yang terbuat dari besi. NH inilah yang kemudian diduga disebutkan dalam pernyataan A Kuan ketika berhalusinasi tersebut.

“Kalau (membunuh) yang dirumah itu mudah”, ujar Adi salah satu saksi yang turut menangkap pelaku pagi naas sebelum pembunuhan.

Adi menambahkan bahwa niat pembunuhan tersebut sebenarnya mengarah kepada Herman. Tindakan keji yang kemudian diketahui karena gangguan jiwa berat atau halusinasi tersebut kemudian menyasar ayahnya karena abangnya tersebut menghindar dan berlari keluar rumah.

“Saya telah membunuh raja jin”, ujarnya kepada petugas setelah menghantam balok kebagian belakang kepala ayahnya.

Rasa tidak bersalah tersebut yang kemudian sebagian warga yang terlibat mengamankan pelaku mengatakannya ulahnya sebagai psikopat.

Kini rumah nomor 60 tersebut hening. Garis polisi terlihat terpasang mengelilingi rumah yang menjadi saksi bisu kejadian terkutuk tersebut.  Karangan bunga sebagai ungkapan belasungkawa terlihat berdiri dibahu Jalan Rahayu yang sempat dipenuhi warga Kijang karena ulah terkutuk A Kuan. Taksi BP 1250 TU yang menjadi tulang punggung ekonomi korban berwarna kuning terparkir disamping rumah juga terlihat rusak. Kaca taksi yang sehari-hari direntalkan tersebut hancur dibagian belakang, samping dan depannya. Sebuah gambaran bahwa A Kuan hari itu diluar kesadaran. Juga diluar batas kewajaran. Hingga menyebabkan Bong Jioe Kioeng, orang yang membesarkannya selama ini meregang nyawa bergenang darah. (Haris D)

Klik Follow Untuk Baca Berita Terbaru Kami :

  • 33


RAMADHAN 2018 RAMADHAN 2018 RAMADHAN 2018 RAMADHAN 2018 RAMADHAN 2018 BANNER WARTA KEPRI
BANNER WARTA KEPRI
DEWAN PERS WARTAKEPRI

Berita Terkait



PEMPROV KEPRI
PEMKO TANJUNGPINANG
PEMKO BATAM PEMKAB ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD BATAM
DPRD LINGGA